Jeda Hangat:
Ulang Tahun yang Sederhana
_Menjenguk Chandra 2A_
Di antara riuh obrolan dan tawa yang belum juga reda, ada
satu momen yang diam-diam jadi pusat gravitasi hari itu:Ulang Tahun sederhana.
Nggak ada dekorasi mewah, nggak ada kue bertingkat.
Cukup berkumpul, kue Ultah sederhana, bernapas lega, dan merayakan kehidupan
yang masih diberikan kesempatan untuk bersilahturahmi.
Kami berenam, tersusun rapi dalam satu bingkai yang
kebetulan diabadikan.
Yang berdiri ada tiga:
aku, Cak Kotjo, dan Cak Harsono.
Di kursi roda, Chandra duduk tenang di tengah, diapit oleh Siska di satu sisi
dan Tita yang nggak pernah kehabisan energi di sisi lain.
Foto itu mungkin cuma jepretan biasa, tapi kalau dilihat lagi, ia menyimpan
cerita lengkap tentang hari itu: ada yang jadi tiang penyangga, ada yang jadi
pusat perhatian, dan ada yang jadi perekat tawa.
Hari itu
juga punya alasan spesial lain.
Cak Harsono ternyata sedang merayakan ulang tahun istrinya, Chandra.
Dan sebagai bentuk syukur yang nggak setengah-setengah, beliau menyempatkan
diri memotong seekor domba.
Bukan cuma dagingnya yang sampai ke meja, tapi prosesnya yang jadi cerita.
Dari mulai meracik bumbu, menusuk sate, sampai mengaduk oseng-oseng di wajan
besar, semuanya dikerjakan gotong royong dengan keluarga besarnya.
Nggak ada yang jadi penonton.
Semua tangan bergerak, semua orang jadi bagian dari“tim dapur” dadakan.
Semuanya kompak.
Rasanya seperti pulang ke masa kecil di kampung, di mana masak-masak bukan
tugas satu orang, tapi ritual kebersamaan.
Aroma daging yang dibakar pelan-pelan bercampur dengan
asap arang, menyatu dengan bau bawang dan rempah yang mengepul dari dapur.
Di situlah aku sadar, kesederhanaan justru yang bikin acara ini terasa begitu
utuh.
Nggak perlu panggung, nggak perlu sorotan.
Cukup daging yang dibagi rata, tangan-tangan yang saling bantu, dan hati yang
lapang buat merayakan hari istimewa orang lain seolah itu milik bersama.
Dan sore pun mulai merayap masuk, membawa kami dari dapur
yang hangat menuju ruang tamu yang lebih tenang.
Di situlah cerita berikutnya dimulai, tentang kanvas, tentang Gajah Mada, dan
tentang bagaimana persahabatan bisa menyelamatkan seseorang dari pusaran air,
sekaligus menghidupkan kembali lukisan sejarah yang selama ini hanya diam di
atas kertas.
---ooo000ooo---




.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)