Wednesday, June 3, 2026

Menjenguk Chandra 3

 

Menjenguk Chandra 3


 Lukisan Gajah Mada & Kisah Nyaris Tenggelam

           Menjenguk Chandra 3

Sore mulai merayap masuk lewat jendela, membawa cahaya keemasan yang pas banget buat momen berikutnya.
Cak Harsono akhirnya mengeluarkan “senjata” tersembunyi,
Sebuah kanvas karya Cak Novandi.
Di sana, berdiri Gajah Mada.
Tapi sebelum mata kami benar-benar menelusuri goresannya, Cak Harsono malah melempar cerita yang bikin suasana langsung tegang.

Katanya, lukisan ini punya “Nyawa” dari kejadian nyata.
Waktu itu, Chandra lagi berdiri di bibir air terjun.
Nggak masuk ke air, cuma nempel di tepian.

Eh, tiba-tiba…Byur badannya kayak ditarik pusaran gaib.
Tenggelam.
Cuma tangan yang masih menggapai-nggapai udara, kelihatan makin ke bawah.

Nggak sampai dua detik, Cak Harsono langsung nyemplung.
Nyelam.
Menyelamatkan nyawa teman sendiri di detik-detik yang nggak sempat buat mikir dua kali.
Anehnya, Chandra bilang dia nggak merasa masuk air, cuma di tepi, tapi tiba-tiba kayak terseret paksa.
Mungkin alam lagi ngetes nyali, atau memang ada tarikan yang nggak kelihatan.
Yang jelas, hari itu persahabatan terbukti bukan cuma soal ngobrol, tapi soal siapa yang berani nyebur pas teman lagi tenggelam.


Aku jadi penasaran,

Akupun ingin melihat Lukisan itu.
Aku berjalan mendekat.
Karena butuh pegangan, bahu Cak Kotjo kujadikan “pagar hidup”.
Langkah pelan.

Begitu wajah Gajah Mada itu jelas di depan mata, aku langsung ternganga.
Ini bukan gambar textbook yang kaku dan terlalu idealis.
Ini hidup.
Goresannya artistik, tapi yang paling nyantol di hati adalah aura“Njawani”-nya.
Beda jauh sama ilustrasi buku sejarah.

Di sini, Gajah Mada terlihat lebih berakar, lebih membumi.
Alisnya tajam di ujung, bukan sekadar detail estetika, tapi tanda visual dari orang yang punya prinsip keras.
Orang yang nggak gampang goyah.
Orang yang kalau sudah memutuskan sesuatu, nggak bakal balik arah.

 

Di balik sosoknya, terpatri kalimat sakti:“Tan Hana Dharma Mangrwa.” 

Nggak ada kebenaran yang mendua. Nggak ada pengabdian yang setengah-setengah.

 

Dalam diam, kalimat itu ngomong keras-keras.
Ini bukan sekadar slogan politik masa lalu atau hafalan pelajaran sejarah.
Ini cerminan integritas.
Kesetiaan yang nggak butuh panggung.

Prinsip yang nggak luntur kena waktu, godaan, atau situasi.
Gajah Mada mungkin hidup ratusan tahun lalu, tapi semangat“Ndak boleh mendua” itu masih napas di ruangan ini.
Bukan dalam bentuk Sumpah Palapa atau perang menyatukan Nusantara, tapi dalam bentuk yang lebih sederhana, hadir tanpa syarat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan nggak ninggalin teman pas lagi butuh.

 

Sambil menatap lukisan itu, aku jadi sadar, hari ini bukan cuma soal kumpul-kumpul biasa.
Ini soal bagaimana loyalitas itu nggak harus dramatis.

Kadang, cukup dengan duduk bareng di kursi roda yang goyah, tertawa sampai perut sakit, atau nyelam tanpa mikir panjang.
Gajah Mada mengajarkan kita tentang kesetiaan yang mutlak.
Tapi teman-teman di ruangan ini mengajarkanku bahwa kesetiaan itu juga bisa lembut, hangat, dan penuh tawa.

 

Dan di sore yang mulai redup itu, lukisan itu nggak cuma jadi pajangan dinding.
Ia jadi pengingat, bahwa di dunia yang penuh kompromi, tetap ada ruang untuk orang-orang yang memilih setia.
Pada prinsip.
Pada teman.
Pada diri sendiri.


---ooo000ooo---

 

No comments:

Post a Comment

kata-kata yang bijak, menentramkan hati.