Filosofi Jawa: Garis Tangan &
Laku Utama
Menjenguk Chandra 4
Seperti
halnya saat aku dijemput, aku juga diantar pulang oleh Cak Kotjo dan Cak
Harsono.
Cak Harsono yang sekilas kukenal di SMP dulu, kini menjadi sosok yang amat
bijak, sosialnya tinggi dan setiakawan.
Mobil mulai
melaju pelan.
Lampu jalan menyapu kaca depan, mengakhiri hari yang tadi penuh tawa, bakso,
dan obrolan yang nggak kenal ampun.
Di dalam keheningan kabin yang nyaman itu, aku coba sok bijak.
“Sebenarnya, kalau kita usaha dan hati-hati, semua bisa kita kendalikan,
kan? Biar nggak ada hal yang nggak kita harapkan.”
Cak Harsono cuma tersenyum tipis dari kursi belakang.
Suaranya pelan, tapi
nyantol pas di tulang.
“Garis
tangan iku gak isok diubah.”
Kalimat itu
bukan penutup.
Bukan juga ajakan pasrah.
Itu undangan untuk sadar.
Orang Jawa
nggak ngomongin ini dengan nada pesimis atau menyerah pada keadaan.
Mereka punya istilah sendiri:Pepesthen atauGarising urip.
Ada ranah-ranah dalam hidup yang memang
bukan domain kita:
Kapan jodoh datang mengetuk pintu, apakah sebuah hubungan akan bertahan atau
kandas, atau kapan napas terakhir kita diambil.
Kita cuma penumpang di kendaraan yang namanya takdir.
Wong Jawa
punya kompas sederhana:“Wong urip kuwi nglakoni.”
Hidup itu
dijalani.
Bukan ditebak, bukan dipaksa, tapi dilakoni.
Hasil akhir? Itu urusan semesta.
Yang jadi tanggung jawab kita cuma satu, bagaimana kita melangkah, menyikapi,
dan menata hati di sepanjang jalan itu.
Ambil soalJodoh.
Kita nggak bisa nyodorin daftar nama ke langit dan bilang, “Ini yang aku mau.”
Tapi kita bisa ngasah diri.
Jadi pribadi yang layak dipercaya, yang jaga lisan, yang tahu cara setia, yang
ngerti cara menghargai tanpa menuntut balasan.
SoalPerpisahan.
Nggak semua ikatan bisa dipertahankan, sekeras apa pun kita genggam.
Tapi kita bisa pilih cara berpisah: tanpa racun, tanpa ego yang meledak, dengan
tanggung jawab yang nggak lari, dan rasa hormat yang tetap tersisa sampai detik
terakhir.
SoalKematian.
Nggak ada jam pasir yang bisa kita balik atau tawar.
Tapi kita bisa isi waktu yang ada dengan makna.
Nggak harus jadi Pahlawan atau Karya raksasa.
Cukup jadi manusia yang baik, yang ninggalin jejak hangat, yang namanya nggak
cuma dikenang, tapi dirindukan.
Di tengah perjalanan pulang, teringat satu frase Jawa
yang selalu bikin aku diam sejenak:
“Urip iku
mampir ngombe.”
Hidup itu
cuma singgah buat minum.
Singkat.
Sementara.
Karena itu, yang dihitung bukan lama kita nongkrong di kedai kehidupan, tapi
bagaimana kita menikmati setiap teguknya.
Apakah kita minum dengan syukur, atau justru sibuk mengeluh karena gelasnya
nggak secantik yang kita impikan.
Di kaca
mobil yang mulai berkabut, aku akhirnya paham.
Hari ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa.
Ini pelajaranlaku utama.
Bukan sibuk menebak nasib atau ngatur garis tangan, tapi memperbaiki cara kita
melangkah di atasnya.
Garis tangan mungkin sudah tertulis, tapi cara kita menginjakkan kaki, memilih
langkah, dan menyapa orang di sepanjang jalan, itu sepenuhnya di tangan kita.
Dan sore ini, aku pulang dengan hati yang lebih ringan.
Bukan karena tahu apa yang akan terjadi besok, tapi karena tahu bagaimana harus
menyikapinya.
Nglakoni.
Berjalan. Tanpa drama, tanpa paksaan.
Cukup hadir, cukup baik, dan cukup manusiawi.
---ooo000ooo---

No comments:
Post a Comment
kata-kata yang bijak, menentramkan hati.