Tuesday, June 2, 2026

Menjenguk Chandra 1

 

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1


Menjenguk Chandra 1


Kejutan Silaturahmi & Kekuatan Persahabatan.
Menjenguk Chandra 1


Jam 11 pagi, notifikasi WA berdering, Cak Kotjo. “On the way.” Kukira cuma chat koordinasi biasa, taunya ternyata dijemput.
Dan bukan cuma Cak Kotjo yang datang, Cak Harsono juga ikut nyusul.
Plot twist di tengah Hari libur yang biasa-biasa saja.

 

Awalnya, dalam kepala udah kebayang rute klasik: mampir rumahku dulu, baru lanjut.
Eh, kenyataannya rombongan langsung meluncur ke rumah Chandra.
Alasannya?“Penumpang udah overload, Bang.” Kwkwk.
Jadi, aku baru dijemput setelah mereka ‘ndrop’ dulu di sana.
Biar nggak rebutan kursi, mungkin.
Atau biar dramanya tetap terjaga sampai detik terakhir.
Hehehe…

Sebenarnya aku memang ngga paham dengan Mobil dan Jumlah Penumpangnya.
Yang aku tahu, tinggal duduk dan breeem... mobil berangkat...

Jauh sebelum itu Lusi berencana akan kerumahku, namun ada sesuatu yang tak bisa ditinggalkan, jadi akhirnya urung ikut Menjenguk Chandra.

 

Pas sampai di rumah Chandra, langsung kerasa bedanya.
Suasana nggak kaku, malah hangat kayak baru pulang kampung setelah lama merantau.

Ada Tita, dengan senyumnya yang nggak pernah absen bikin ruangan terasa lebih terang.
Terus muncul tiga nama yang bikin aku geleng-geleng: Made, Andre, dan Dewi Wati. Kedengarannya maskulin, eh ternyata semuanya perempuan.
Teman SMA dan kuliah Chandra di WK Surabaya.
Lucunya, aku baru tahu nama mereka pas mau pamitan pulang. Hiks.

Tapi obrolannya?
Langsung nyambung kayak frekuensi radio yang udah disetel bertahun-tahun.

Yang paling bikin dada sesak tapi hangat, lihat Chandra.

Seharusnya dia bedrest total.
Dokter mungkin sudah pesanin istirahat ketat.
Tapi begitu teman-temannya datang, tubuh yang tadinya lemas seolah di-charge ulang.
Dia langsung bisa duduk tegak di kursi roda, berjam-jam, ngobrol sampai lupa waktu.

Ilmiahnya sih, hormon adrenalin dan dopamin lagi pesta pora di darahnya.
Efek psikologis dan sosial langsung bekerja, rasa aman, rasa punya tempat, rasa didengar tanpa perlu menjelaskan.

Tapi bagiku, itu sederhana saja.
Persahabatan itu kayak obat yang nggak perlu diresepkan.
Cukup hadir, dan tubuh yang lelah pun menemukan tenaganya lagi.

Silaturahmi nggak selalu harus terjadwal atau megah.
Kadang, cukup satu WA dadakan, satu tumpangan mobil yang penuh sesak, dan beberapa wajah yang udah lama nggak ketemu.

Sisanya?
Biarkan hati yang bicara.
Karena pada akhirnya, manusia itu memang dirancang untuk saling mengisi.
Dan hari itu, kami cuma membuktikan bahwa kehadiran adalah bahasa penyembuh yang paling jujur.

---ooo000ooo---

No comments:

Post a Comment

kata-kata yang bijak, menentramkan hati.