Tuesday, June 2, 2026

Menjenguk Chandra 2A

 

Menjenguk Chandra 2A

Jeda Hangat: Ulang Tahun yang Sederhana
      _Menjenguk Chandra 2A_

Di antara riuh obrolan dan tawa yang belum juga reda, ada satu momen yang diam-diam jadi pusat gravitasi hari itu:Ulang Tahun sederhana.
Nggak ada dekorasi mewah, nggak ada kue bertingkat.
Cukup berkumpul, kue Ultah sederhana, bernapas lega, dan merayakan kehidupan yang masih diberikan kesempatan untuk bersilahturahmi.

 

Kami berenam, tersusun rapi dalam satu bingkai yang kebetulan diabadikan.
Yang berdiri ada tiga: aku, Cak Kotjo, dan Cak Harsono.
Di kursi roda, Chandra duduk tenang di tengah, diapit oleh Siska di satu sisi dan Tita yang nggak pernah kehabisan energi di sisi lain.
Foto itu mungkin cuma jepretan biasa, tapi kalau dilihat lagi, ia menyimpan cerita lengkap tentang hari itu: ada yang jadi tiang penyangga, ada yang jadi pusat perhatian, dan ada yang jadi perekat tawa.

Hari itu juga punya alasan spesial lain.
Cak Harsono ternyata sedang merayakan ulang tahun istrinya, Chandra.
Dan sebagai bentuk syukur yang nggak setengah-setengah, beliau menyempatkan diri memotong seekor domba.
Bukan cuma dagingnya yang sampai ke meja, tapi prosesnya yang jadi cerita.

Dari mulai meracik bumbu, menusuk sate, sampai mengaduk oseng-oseng di wajan besar, semuanya dikerjakan gotong royong dengan keluarga besarnya.
Nggak ada yang jadi penonton.
Semua tangan bergerak, semua orang jadi bagian dari“tim dapur” dadakan.
Semuanya kompak.

Rasanya seperti pulang ke masa kecil di kampung, di mana masak-masak bukan tugas satu orang, tapi ritual kebersamaan.

 

Aroma daging yang dibakar pelan-pelan bercampur dengan asap arang, menyatu dengan bau bawang dan rempah yang mengepul dari dapur.
Di situlah aku sadar, kesederhanaan justru yang bikin acara ini terasa begitu utuh.
Nggak perlu panggung, nggak perlu sorotan.
Cukup daging yang dibagi rata, tangan-tangan yang saling bantu, dan hati yang lapang buat merayakan hari istimewa orang lain seolah itu milik bersama.

 

Dan sore pun mulai merayap masuk, membawa kami dari dapur yang hangat menuju ruang tamu yang lebih tenang.
Di situlah cerita berikutnya dimulai, tentang kanvas, tentang Gajah Mada, dan tentang bagaimana persahabatan bisa menyelamatkan seseorang dari pusaran air, sekaligus menghidupkan kembali lukisan sejarah yang selama ini hanya diam di atas kertas.

---ooo000ooo---

Menjenguk Chandra 2

 

Menjenguk Chandra 2


Menjenguk Chandra 2

Bakso, Telor Tiga, & Obrolan ala Pasar
     Menjenguk Chandra 2

Baru aja duduk sebentar, aroma bakso buatan sendiri langsung menyerbu hidung.
Uapnya mengepul, mengundang selera.

Tapi aku?
Cuma duduk manis sambil menyeruput minuman.
Nggak ikutan makan.
Maklum aku tetap dengan pilihanku Keto.

 

Belum sempat suasana reda, Siska datang.
Aku lupa banget dengan sosoknya.
Dan ini bikin aku geleng-geleng sendiri.
Sekota.
Sealumni.
Tapi baru kali ini ketemu.
Ada apa sih dengan diriku?
Dengan jujur, dan sedikit malu-malu kucing, aku mengakui, "Ya memang itu bagian dari sifat sombongku." Hiks.

Teman sealumni, sekota, tapi nggak pernah disilaturahmi.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan dunia sendiri, atau mungkin memang kurang peka.


Siska? Manis banget…Low profile.
Penampilannya sederhana, nggak neko-neko.
Tapi karena udah terlalu lama nggak ngobrol dengan teman seusianya, rasanya agak canggung juga.
Kayak meeting orang baru, padahal kita punya memori yang sama di koridor sekolah yang sama.

Saat yang lain selesai makan Bakso, mereka bertanya apa yang bisa kusantap.
Begitu ditanya, Sugest makan apa?
seketika langsung kujawab tanpa mikir:"Telor 3 didadar.
Tambah bawang putih dan bawang merah."

Chandra yang denger langsung nyeletuk,"Ini lho Om Sugest agak rewel... minta dadar telor 3 biji dengan bawang merah dan bawang putih."
Katanya kepada anaknya yg agak jauh posisinya.

Anaknya segera membuatkan pesananku.

Ya aku kagum dengan Parentingnya Chandra, semua anaknya kompak bahu-membahu
Tanpa pembantu.
Luarbiasa.
Mendidik anak jadi lebih mandiri.

Nggak berhenti di situ.
Setelah telor dadarnya jadi, aku request lagi:
"Tambah 3 cabe merah."

Dan BAM! Tita, si jenius dengan otak analitiknya serta dermawan ini, langsung nyeletuk:
"Telur tiga, cabe tiga, kayaknya serba tiga“
Ini dari mana komposisinya?
Apakah ada korelasinya dengan hal-hal lain?"

Aku cuma nyengir.
Kujawab seadanya:"Nabi itu suka yang ganjil."

Hehehe…jawabku menirukan ustadz-ustadz.

Obrolanpun makin gayeng, makin asyik….

Dan inilah yang terjadi:Mozaik percakapan.

Nggak ada yang namanya gantian bicara.
Semua topik berjalan paralel, seperti jalan tol yang padat tapi tetap lancar.
Di sudut kiri, ada yang bahas teman SMP yang dulu paling sering dihukum.
Di sudut kanan, nostalgia SMA tentang guru killer yang galaknya kebangetan.

Tiba-tiba nyambung ke dosen kuliah yang kalau ngajar bikin ngantuk.

Kami semua bersikukuh dengan topik masing-masing.
Lalu komposisinya geser lagi.
Dari obrolan umum, loncat ke gosip tipis-tipis, balik lagi ke kenakalan masa putih-biru.

Rasanya kayak di pasar tradisional,  rame, nggak sinkron, semua ngomong bareng, teriak-teriakan, tawa meledak-ledak.

Bedanya?
Di sini nggak ada transaksi.
 Nggak ada yang beli, nggak ada yang jual.
Nggak ada tawar-menawar.
Yang ada cuma tawa.
Tawa yang tulus.
Tawa yang nggak perlu alasan.

Dan justru karena nggak ada yang "laku", obrolannya jadi lebih seru.
Nggak ada agenda tersembunyi.

Nggak ada kebutuhan untuk terlihat pintar atau menarik.
Kami cuma manusia-manusia yang rindu untuk didengar dan tertawa bersama.

 

Di tengah hiruk-pikuk itu, aku sadar, inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan harta, bukan jabatan.
Tapi kemampuan untuk duduk bersama, ngobrol ngalor-ngidul, dan tertawa sampai perut sakit. Karena pada akhirnya, yang kita ingat bukan kata-kata yang sempurna, tapi momen ketika kita merasa benar-benar hidup di antara orang-orang yang peduli.

---ooo000ooo---

Menjenguk Chandra 1

 

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1

Menjenguk Chandra 1


Menjenguk Chandra 1


Kejutan Silaturahmi & Kekuatan Persahabatan.
Menjenguk Chandra 1


Jam 11 pagi, notifikasi WA berdering, Cak Kotjo. “On the way.” Kukira cuma chat koordinasi biasa, taunya ternyata dijemput.
Dan bukan cuma Cak Kotjo yang datang, Cak Harsono juga ikut nyusul.
Plot twist di tengah Hari libur yang biasa-biasa saja.

 

Awalnya, dalam kepala udah kebayang rute klasik: mampir rumahku dulu, baru lanjut.
Eh, kenyataannya rombongan langsung meluncur ke rumah Chandra.
Alasannya?“Penumpang udah overload, Bang.” Kwkwk.
Jadi, aku baru dijemput setelah mereka ‘ndrop’ dulu di sana.
Biar nggak rebutan kursi, mungkin.
Atau biar dramanya tetap terjaga sampai detik terakhir.
Hehehe…

Sebenarnya aku memang ngga paham dengan Mobil dan Jumlah Penumpangnya.
Yang aku tahu, tinggal duduk dan breeem... mobil berangkat...

Jauh sebelum itu Lusi berencana akan kerumahku, namun ada sesuatu yang tak bisa ditinggalkan, jadi akhirnya urung ikut Menjenguk Chandra.

 

Pas sampai di rumah Chandra, langsung kerasa bedanya.
Suasana nggak kaku, malah hangat kayak baru pulang kampung setelah lama merantau.

Ada Tita, dengan senyumnya yang nggak pernah absen bikin ruangan terasa lebih terang.
Terus muncul tiga nama yang bikin aku geleng-geleng: Made, Andre, dan Dewi Wati. Kedengarannya maskulin, eh ternyata semuanya perempuan.
Teman SMA dan kuliah Chandra di WK Surabaya.
Lucunya, aku baru tahu nama mereka pas mau pamitan pulang. Hiks.

Tapi obrolannya?
Langsung nyambung kayak frekuensi radio yang udah disetel bertahun-tahun.

Yang paling bikin dada sesak tapi hangat, lihat Chandra.

Seharusnya dia bedrest total.
Dokter mungkin sudah pesanin istirahat ketat.
Tapi begitu teman-temannya datang, tubuh yang tadinya lemas seolah di-charge ulang.
Dia langsung bisa duduk tegak di kursi roda, berjam-jam, ngobrol sampai lupa waktu.

Ilmiahnya sih, hormon adrenalin dan dopamin lagi pesta pora di darahnya.
Efek psikologis dan sosial langsung bekerja, rasa aman, rasa punya tempat, rasa didengar tanpa perlu menjelaskan.

Tapi bagiku, itu sederhana saja.
Persahabatan itu kayak obat yang nggak perlu diresepkan.
Cukup hadir, dan tubuh yang lelah pun menemukan tenaganya lagi.

Silaturahmi nggak selalu harus terjadwal atau megah.
Kadang, cukup satu WA dadakan, satu tumpangan mobil yang penuh sesak, dan beberapa wajah yang udah lama nggak ketemu.

Sisanya?
Biarkan hati yang bicara.
Karena pada akhirnya, manusia itu memang dirancang untuk saling mengisi.
Dan hari itu, kami cuma membuktikan bahwa kehadiran adalah bahasa penyembuh yang paling jujur.

---ooo000ooo---

Monday, August 26, 2024

La Parroquia de San Miguel Arcángel

 









San Miguel de Allende: Pesona Abadi dalam Gambar 3D HD Realistis


San Miguel de Allende, sebuah kota yang terletak di jantung Meksiko, adalah sebuah permata arsitektur yang memikat hati setiap pengunjungnya. Dengan jalan-jalan berbatu yang berkelok-kelok, bangunan-bangunan bergaya Barok Spanyol, dan suasana yang kaya akan sejarah serta seni, kota ini telah menjadi salah satu destinasi terfavorit di Meksiko. Melalui gambar 3D HD yang realistis, kita dapat menjelajahi keindahan San Miguel de Allende dengan cara yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Gambar-gambar ini mampu menangkap setiap detail yang mempesona dari kota ini, membawa kita seolah-olah melangkah langsung ke dalam jantungnya.

Pemandangan Kota yang Menakjubkan

Ketika melihat gambar 3D HD dari San Miguel de Allende, kita disuguhkan dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Dari sudut pandang yang tinggi, deretan rumah berwarna-warni terlihat menyebar di atas bukit, menciptakan panorama yang memukau. Setiap rumah, dengan atap merahnya yang khas, berpadu dengan langit biru cerah yang melatarbelakangi. Di tengah kota, La Parroquia de San Miguel Arcángel berdiri megah, menara gereja yang menjulang tinggi menambah keindahan arsitektur yang rumit. Gereja ini bukan hanya menjadi ikon kota, tetapi juga sering kali menjadi pusat perhatian dalam setiap gambar yang diambil.

Detail Arsitektur yang Memukau

Gambar 3D HD ini dengan jelas menyoroti detail arsitektur yang menakjubkan dari bangunan-bangunan di San Miguel de Allende. Setiap fasad bangunan dihiasi dengan ornamen-ornamen yang rumit, menampilkan keahlian tangan para pengrajin lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pintu kayu yang besar dan jendela-jendela dengan teralis besi yang artistik memberikan sentuhan tradisional yang tak tertandingi. Jalan-jalan berbatu yang sempit dan berliku-liku menambah kesan kuno dan romantis pada kota ini. Dalam gambar, sinar matahari memantul dari dinding-dinding bangunan, menciptakan bayangan yang dramatis dan menambah kedalaman visual, menjadikan setiap sudut kota tampak hidup.

Kehidupan Sehari-hari yang Dinamis

Selain keindahan arsitektur, gambar 3D HD ini juga berhasil menangkap kehidupan sehari-hari yang dinamis di San Miguel de Allende. Kita bisa melihat pasar-pasar tradisional yang ramai, di mana para pedagang menjajakan barang dagangan mereka, mulai dari kerajinan tangan lokal hingga makanan khas Meksiko yang menggugah selera. Suara tawa anak-anak yang bermain di alun-alun kota, pasangan yang berjalan bergandeng tangan, dan seniman jalanan yang memamerkan bakat mereka menciptakan suasana yang penuh warna dan semangat. Semua elemen ini memberikan gambaran yang hidup tentang kehidupan masyarakat setempat yang penuh dengan kebahagiaan dan kreativitas.

Keindahan Alam yang Mengelilingi Kota

San Miguel de Allende tidak hanya menawarkan pesona kota, tetapi juga dikelilingi oleh pemandangan alam yang menakjubkan. Dalam gambar 3D HD ini, kita dapat melihat perbukitan hijau yang mengelilingi kota, memberikan latar belakang yang menawan. Pada pagi hari, kabut tipis sering menyelimuti perbukitan ini, menciptakan suasana yang magis dan menenangkan. Di kejauhan, ladang-ladang luas dan sungai yang mengalir dengan tenang menambah keindahan alami yang melengkapi pesona kota ini. Gambar-gambar ini seolah mengajak kita untuk merasakan ketenangan dan kedamaian yang hanya bisa ditemukan di tengah alam yang indah.

Gambar 3D HD yang realistis dari San Miguel de Allende memberikan kita kesempatan untuk menjelajahi setiap sudut kota ini dengan detail yang luar biasa. Dari arsitektur yang menakjubkan hingga kehidupan sehari-hari yang dinamis, serta keindahan alam yang mengelilinginya, semua elemen ini bersatu untuk menciptakan potret yang mempesona dari San Miguel de Allende. Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan sejarah dan budaya yang kaya, menjadikannya salah satu destinasi yang paling dicintai di Meksiko. Melalui gambar-gambar ini, kita tidak hanya melihat

Friday, August 9, 2024

SMP Negeri 4 Surabaya

 









SMP Negeri 4 Surabaya adalah salah satu lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang dan kaya, yang berakar dari masa kolonial Belanda. Sekolah ini tidak hanya berperan dalam mencerdaskan generasi muda, tetapi juga merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai perjalanan berdirinya SMP Negeri 4 Surabaya.


### Awal Pendirian


Pada awalnya, SMP Negeri 4 Surabaya didirikan sebagai Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yang merupakan bentuk pendidikan setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada masa kolonial Belanda. Gedung sekolah ini dibangun pada tahun 1890, sebuah periode di mana pendidikan bagi anak-anak pribumi mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah kolonial. MULO merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak yang memiliki kemampuan akademis tinggi, dan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam sejarah pendidikan di Indonesia.


Arsitektur gedung SMP Negeri 4 Surabaya mencerminkan gaya kolonial Belanda, yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Bangunan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi simbol sejarah dan budaya yang berharga. Dengan nuansa historis yang kental, gedung ini memberikan pengalaman belajar yang unik bagi para siswa, menghubungkan mereka dengan warisan pendidikan yang telah ada selama lebih dari satu abad.


### Resmi Berdiri


Perjalanan SMP Negeri 4 Surabaya memasuki babak baru ketika pada tanggal 1 Oktober 1950, sekolah ini secara resmi didirikan dengan Nomor SK Pendirian 9145/B. Setelah Indonesia merdeka, kebutuhan akan pendidikan yang berkualitas semakin mendesak, dan SMP Negeri 4 Surabaya menjadi salah satu lembaga yang berperan dalam mencerdaskan anak bangsa di wilayah Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.


Di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, SMP Negeri 4 Surabaya telah mengalami berbagai perubahan fungsi dan adaptasi untuk memenuhi tuntutan pendidikan yang terus berkembang. Sejak saat itu, sekolah ini terus berupaya memberikan pendidikan yang berkualitas, dengan jumlah siswa yang terus bertambah dan didukung oleh tenaga pengajar yang profesional. 


Dengan komitmen untuk terus berinovasi dan meningkatkan mutu pendidikan, SMP Negeri 4 Surabaya telah menjadi tempat yang tidak hanya mendidik, tetapi juga membentuk karakter dan potensi siswa. Berbagai program pendidikan dan ekstrakurikuler yang ditawarkan di sekolah ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan akademis dan non-akademis para siswa, sehingga mereka siap menghadapi tantangan di masa depan.


### Kesimpulan


SMP Negeri 4 Surabaya bukan hanya sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga merupakan bagian penting dari sejarah pendidikan di Indonesia. Dari masa kolonial Belanda hingga saat ini, sekolah ini telah beradaptasi dan berkembang, melahirkan generasi-generasi yang berkualitas. Dengan sejarah yang panjang dan kaya, SMP Negeri 4 Surabaya terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik bagi para siswanya, serta menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada. Keberadaan sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan sejarah dapat berjalan beriringan, membentuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa.

Wednesday, September 9, 2009

Jumpa warga di Facebook...


Face book sangat membantu kami dalam rangka mengumpulkan Teman-teman Sekolah (Reuni)

Untuk yg Alumni Th 84 bisa ikutan disini..

sedangkan yg Alumni Th 85 bisa ikutan disini...

Silahkan bergabung...

Tuesday, August 25, 2009

Songa Rekreasi Alternatif teman-teman


Songa Adventure


### Tempat Rekreasi Songa: Petualangan Arung Jeram yang Menggugah Adrenalin

Songa Adventure adalah salah satu destinasi wisata yang paling menarik di Probolinggo, Jawa Timur, khususnya bagi para penggemar olahraga petualangan. Terletak di sepanjang Sungai Pekalen, tempat ini menawarkan pengalaman arung jeram yang mendebarkan dengan arus deras dan jeram-jeram menantang. Songa Adventure terbagi menjadi dua lokasi pemberangkatan utama, yaitu Songa Atas dan Songa Bawah, masing-masing menawarkan keunikan dan tantangan tersendiri bagi para peserta.

#### Songa Atas

Songa Atas, yang terletak di daerah Pesawahan, merupakan pilihan favorit bagi mereka yang mencari tantangan lebih dalam kegiatan arung jeram. Dengan harga tiket sebesar Rp 210.000,- per orang, pengunjung dapat merasakan sensasi berarung jeram yang memacu adrenalin. Namun, perlu diperhatikan bahwa minimum peserta per regu adalah 5 orang. Jika jumlah peserta kurang dari 5 orang, maka tetap harus membayar tiket untuk 5 orang. Untuk rombongan yang terdiri dari lebih dari 10 orang, tersedia potongan harga sebesar 20%, menjadikannya pilihan yang ekonomis bagi kelompok besar.

#### Songa Bawah

Di sisi lain, Songa Bawah menawarkan pengalaman yang tidak kalah menarik. Terletak di daerah Condong, harga tiket untuk Songa Bawah adalah Rp 190.000,- per orang, dengan ketentuan yang sama mengenai jumlah minimum peserta. Seperti Songa Atas, jika jumlah peserta kurang dari 5 orang, maka tetap harus membayar tiket untuk 5 orang. Rombongan yang lebih dari 10 orang juga akan mendapatkan potongan harga 20%. 

#### Rangkaian Acara

Setelah peserta tiba di basecamp, mereka akan disambut dengan welcome drink yang menyegarkan. Ini adalah awal dari rangkaian acara yang telah disiapkan untuk memastikan pengalaman yang menyenangkan dan aman. Berikut adalah urutan acara yang akan diikuti oleh peserta:

1. Welcome Drink: Menikmati minuman selamat datang di basecamp untuk menyegarkan tubuh sebelum memulai petualangan.
2. Pemakaian Peralatan: Peserta akan diberikan peralatan standar seperti helm, pelampung, dan dayung, yang sangat penting untuk keselamatan selama arung jeram.
3. Briefin*: Sebelum memulai arung jeram, akan diadakan briefing untuk menjelaskan aturan keselamatan dan panduan selama pengarungan. Ini adalah langkah penting untuk memastikan semua peserta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat di sungai.
4. Transportasi ke Titik Mulai: Peserta akan diangkut menggunakan pickup sejauh 12 km menuju titik mulai arung jeram. Selama perjalanan ini, peserta dapat menikmati pemandangan alam yang indah di sekeliling.
5. Jalan Kaki: Setelah turun dari pickup, peserta akan berjalan kaki sejauh 2 km menuju sungai, memberikan kesempatan untuk menikmati suasana alam yang asri.

Fasilitas Tambahan

Bagi anggota keluarga yang tidak ikut serta dalam kegiatan arung jeram, namun ingin mendampingi keluarga, tersedia fasilitas makanan dengan harga Rp 15.000,- per porsi. Ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk tetap menikmati waktu bersama tanpa harus berpartisipasi dalam kegiatan arung jeram. Selain itu, anak-anak yang diperbolehkan ikut serta dalam kegiatan arung jeram harus berusia di atas 5 tahun dan mampu menahan hawa dingin, sehingga keselamatan dan kenyamanan mereka tetap terjaga.



Songa Adventure bukan hanya sekadar tempat untuk berarung jeram, tetapi juga merupakan destinasi yang ideal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Dengan dua pilihan rute, Songa Atas dan Songa Bawah, setiap peserta dapat memilih tingkat kesulitan yang sesuai dengan keinginan mereka. Harga tiket yang terjangkau dan fasilitas yang lengkap menjadikan Songa Adventure sebagai pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin menguji adrenalin dan menikmati keindahan alam Probolinggo. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman tak terlupakan di Songa Adventure!