Tuesday, June 2, 2026

Menjenguk Chandra 2

 

Menjenguk Chandra 2


Menjenguk Chandra 2

Bakso, Telor Tiga, & Obrolan ala Pasar
     Menjenguk Chandra 2

Baru aja duduk sebentar, aroma bakso buatan sendiri langsung menyerbu hidung.
Uapnya mengepul, mengundang selera.

Tapi aku?
Cuma duduk manis sambil menyeruput minuman.
Nggak ikutan makan.
Maklum aku tetap dengan pilihanku Keto.

 

Belum sempat suasana reda, Siska datang.
Aku lupa banget dengan sosoknya.
Dan ini bikin aku geleng-geleng sendiri.
Sekota.
Sealumni.
Tapi baru kali ini ketemu.
Ada apa sih dengan diriku?
Dengan jujur, dan sedikit malu-malu kucing, aku mengakui, "Ya memang itu bagian dari sifat sombongku." Hiks.

Teman sealumni, sekota, tapi nggak pernah disilaturahmi.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan dunia sendiri, atau mungkin memang kurang peka.


Siska? Manis banget…Low profile.
Penampilannya sederhana, nggak neko-neko.
Tapi karena udah terlalu lama nggak ngobrol dengan teman seusianya, rasanya agak canggung juga.
Kayak meeting orang baru, padahal kita punya memori yang sama di koridor sekolah yang sama.

Saat yang lain selesai makan Bakso, mereka bertanya apa yang bisa kusantap.
Begitu ditanya, Sugest makan apa?
seketika langsung kujawab tanpa mikir:"Telor 3 didadar.
Tambah bawang putih dan bawang merah."

Chandra yang denger langsung nyeletuk,"Ini lho Om Sugest agak rewel... minta dadar telor 3 biji dengan bawang merah dan bawang putih."
Katanya kepada anaknya yg agak jauh posisinya.

Anaknya segera membuatkan pesananku.

Ya aku kagum dengan Parentingnya Chandra, semua anaknya kompak bahu-membahu
Tanpa pembantu.
Luarbiasa.
Mendidik anak jadi lebih mandiri.

Nggak berhenti di situ.
Setelah telor dadarnya jadi, aku request lagi:
"Tambah 3 cabe merah."

Dan BAM! Tita, si jenius dengan otak analitiknya serta dermawan ini, langsung nyeletuk:
"Telur tiga, cabe tiga, kayaknya serba tiga“
Ini dari mana komposisinya?
Apakah ada korelasinya dengan hal-hal lain?"

Aku cuma nyengir.
Kujawab seadanya:"Nabi itu suka yang ganjil."

Hehehe…jawabku menirukan ustadz-ustadz.

Obrolanpun makin gayeng, makin asyik….

Dan inilah yang terjadi:Mozaik percakapan.

Nggak ada yang namanya gantian bicara.
Semua topik berjalan paralel, seperti jalan tol yang padat tapi tetap lancar.
Di sudut kiri, ada yang bahas teman SMP yang dulu paling sering dihukum.
Di sudut kanan, nostalgia SMA tentang guru killer yang galaknya kebangetan.

Tiba-tiba nyambung ke dosen kuliah yang kalau ngajar bikin ngantuk.

Kami semua bersikukuh dengan topik masing-masing.
Lalu komposisinya geser lagi.
Dari obrolan umum, loncat ke gosip tipis-tipis, balik lagi ke kenakalan masa putih-biru.

Rasanya kayak di pasar tradisional,  rame, nggak sinkron, semua ngomong bareng, teriak-teriakan, tawa meledak-ledak.

Bedanya?
Di sini nggak ada transaksi.
 Nggak ada yang beli, nggak ada yang jual.
Nggak ada tawar-menawar.
Yang ada cuma tawa.
Tawa yang tulus.
Tawa yang nggak perlu alasan.

Dan justru karena nggak ada yang "laku", obrolannya jadi lebih seru.
Nggak ada agenda tersembunyi.

Nggak ada kebutuhan untuk terlihat pintar atau menarik.
Kami cuma manusia-manusia yang rindu untuk didengar dan tertawa bersama.

 

Di tengah hiruk-pikuk itu, aku sadar, inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan harta, bukan jabatan.
Tapi kemampuan untuk duduk bersama, ngobrol ngalor-ngidul, dan tertawa sampai perut sakit. Karena pada akhirnya, yang kita ingat bukan kata-kata yang sempurna, tapi momen ketika kita merasa benar-benar hidup di antara orang-orang yang peduli.

---ooo000ooo---

No comments:

Post a Comment

kata-kata yang bijak, menentramkan hati.