Bakso, Telor Tiga, & Obrolan ala
Pasar
Menjenguk Chandra 2
Baru aja duduk sebentar, aroma bakso buatan sendiri
langsung menyerbu hidung.
Uapnya mengepul, mengundang selera.
Tapi aku?
Cuma duduk manis sambil menyeruput minuman.
Nggak ikutan makan.
Maklum aku tetap dengan pilihanku Keto.
Belum sempat suasana reda, Siska datang.
Aku lupa banget dengan sosoknya.
Dan ini bikin aku geleng-geleng sendiri.
Sekota.
Sealumni.
Tapi baru kali ini ketemu.
Ada apa sih dengan diriku?
Dengan jujur, dan sedikit malu-malu kucing, aku mengakui, "Ya memang itu
bagian dari sifat sombongku." Hiks.
Teman sealumni, sekota, tapi nggak pernah disilaturahmi.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan dunia sendiri, atau mungkin memang kurang
peka.
Siska? Manis banget…Low profile.
Penampilannya sederhana, nggak neko-neko.
Tapi karena udah terlalu lama nggak ngobrol dengan teman seusianya, rasanya
agak canggung juga.
Kayak meeting orang baru, padahal kita punya memori yang sama di koridor
sekolah yang sama.
Saat yang
lain selesai makan Bakso, mereka bertanya apa yang bisa kusantap.
Begitu ditanya, Sugest makan apa?
seketika langsung kujawab tanpa mikir:"Telor 3 didadar.
Tambah bawang putih dan bawang merah."
Chandra yang
denger langsung nyeletuk,"Ini lho Om Sugest agak rewel... minta dadar
telor 3 biji dengan bawang merah dan bawang putih."
Katanya kepada anaknya yg agak jauh posisinya.
Anaknya
segera membuatkan pesananku.
Ya aku kagum dengan Parentingnya Chandra, semua anaknya kompak bahu-membahu
Tanpa pembantu.
Luarbiasa.
Mendidik anak jadi lebih mandiri.
Nggak berhenti di situ.
Setelah telor dadarnya
jadi, aku request lagi:
"Tambah 3 cabe merah."
Dan BAM!
Tita, si jenius dengan otak analitiknya serta dermawan ini, langsung nyeletuk:
"Telur tiga, cabe tiga, kayaknya serba tiga“
Ini dari mana komposisinya?
Apakah ada korelasinya dengan hal-hal lain?"
Aku cuma
nyengir.
Kujawab seadanya:"Nabi itu suka yang ganjil."
Hehehe…jawabku menirukan ustadz-ustadz.
Obrolanpun makin gayeng,
makin asyik….
Dan inilah
yang terjadi:Mozaik percakapan.
Nggak ada
yang namanya gantian bicara.
Semua topik berjalan paralel, seperti jalan tol yang padat tapi tetap lancar.
Di sudut kiri, ada yang bahas teman SMP yang dulu paling sering dihukum.
Di sudut kanan, nostalgia SMA tentang guru killer yang galaknya kebangetan.
Tiba-tiba nyambung ke dosen kuliah yang kalau ngajar bikin ngantuk.
Kami semua
bersikukuh dengan topik masing-masing.
Lalu komposisinya geser lagi.
Dari obrolan umum, loncat ke gosip tipis-tipis, balik lagi ke kenakalan masa
putih-biru.
Rasanya
kayak di pasar tradisional, rame, nggak
sinkron, semua ngomong bareng, teriak-teriakan, tawa meledak-ledak.
Bedanya?
Di sini nggak ada transaksi.
Nggak ada yang beli, nggak ada yang
jual.
Nggak ada tawar-menawar.
Yang ada cuma tawa.
Tawa yang tulus.
Tawa yang nggak perlu alasan.
Dan justru
karena nggak ada yang "laku", obrolannya jadi lebih seru.
Nggak ada agenda tersembunyi.
Nggak ada kebutuhan untuk terlihat pintar atau menarik.
Kami cuma manusia-manusia yang rindu untuk didengar dan tertawa bersama.
Di tengah
hiruk-pikuk itu, aku sadar, inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan harta, bukan jabatan.
Tapi kemampuan untuk duduk bersama, ngobrol ngalor-ngidul, dan tertawa sampai
perut sakit. Karena pada akhirnya, yang kita ingat bukan kata-kata yang
sempurna, tapi momen ketika kita merasa benar-benar hidup di antara orang-orang
yang peduli.
---ooo000ooo---


No comments:
Post a Comment
kata-kata yang bijak, menentramkan hati.